Halaman

Rabu, 30 Januari 2013

PERAN PABRIK GULA DALAM MENINGKATKAN EKONOMI DAERAH




Berita tentang neraca perdagangan RI yang mengalami defisit setelah 16 tahun lalu terakhir kali defisit, membuat saya tertarik untuk mencari informasi lebih jauh. Dari salah satu artikel berita saya dapatkan informasi bahwa Indonesia saat ini merupakan pengimpor BBM (Bahan Bakar Minyak) terbesar di dunia dengan nilai impor BBM sebesar US$ 28 miliar pada tahun 2011. Hal ini karena Indonesia defisit produksi minyak. Pengamat ekonomi, Faisal Basri,  mengatakan kondisi impor BBM yang tinggi ini memperlihatkan Indonesia tidak lagi memiliki kedaulatan energi saat ini. Bahkan,  Indonesia juga mengalami defisit pangan dan manufaktur  karena pemerintah dengan gampangnya mengambil jalur pintas yaitu: mengimpor! Betul apa yang dikatakan Bapak Faisal Basri, sejelek-jeleknya kondisi bangsa ini, tidak pernah sampai harus defisit pangan. Kebijakan pemerintah untuk melindungi petani sangat dinantikan action nya. Bahwa baru-baru ini pemerintah melarang buah-buah impor masuk ke Indonesia perlu diapresiasi dan semoga ada follow up bagi petani lainnya seperti petani tebu, bawang merah, teh, kapas, kedelai dan lainnya.

Sehubungan dengan impor BBM Indonesia yang makin besar, tentunya ada tanda tanya, action apa yang bisa dilakukan oleh kita? Pertanyaan ini kemudian “terhubung” dengan artikel yang saya baca tentang manfaat tebu.  Tebu dan kelapa sawit ternyata merupakan “the future plantation”. Karena dua tanaman ini memiliki potensi keuntungan luarbiasa di masa depan. Tebu, selain bisa diolah dengan hasil utama gula, ternyata dalam industri gula tebu juga memiliki hasil samping yaitu pucuk tebu, blotong, ampas dan molasses (tetes tebu). Pucuk tebu dapat dijadikan pakan ternak, blotong dapat dijadikan pupuk organik untuk budidaya sayuran dan buah-buahan organik yang makin meningkat kebutuhannya dewasa ini, ampas tebu yang dapat di gunakan untuk bahan bakar ketel untuk memproduksi energi dan merupakan sumber energi potensial penghasil listrik, sedangkan tetes (molasses) merupakan bahan baku fermentasi yang dapat menghasilkan etanol dan bahan baku berbagai industri misalnya asam asetat, asam sitrat, lisin, asam sitrat, dan protein sel tunggal.

Mari belajar dari Brazil, negeri Samba ini merupakan pelopor penggunaan bahan bakar kendaraan berbasis tebu dengan produk bioetanolnya. Brazil sebagai negara terbesar dalam pengembangan teknologi otomotif berbahan bakar alkohol dan eksportir etanol terbesar di dunia. Produksi etanol Brazil di tahun 2003-2004 mencapai 13, 6 milyar liter/tahun dan menempatkan Brazil sebagai penghasil bioetanol terbesar di dunia. Dari data yang ada menunjukan bahwa Brazil dan Amerika Serikat menghasilkan 89% bahan bakar etanol dari produksi dunia pada tahun 2009. Sekarang ini Brasil dianggap sebagai negara yang mempunyai ekonomi pertama yang berkelanjutan di dunia biofuel dan pemimpin industri biofuel. Saat ini tidak ada lagi kendaraan ringan di Brazil yang berjalan murni dengan menggunakan bensin. Hal ini sesuai dengan program pemerintahnya untuk memiliki kedaulatan energi dengan tidak tergantung pada impor minyak dari negara-negara Timur Tengah.

 Indonesia sebetulnya memiliki potensi besar untuk mengembangkan bioetanol berbahan baku tebu. Dengan asumsi 80 liter bioetanol dapat dihasilkan dari 1 ton tebu (data teknis dari Brazil). Jika produktivitas tanaman tebu PTPN X rata-rata 80 ton per  ha maka dari setiap ha lahan tebu dapat dihasilkan 6400 liter etanol. Dengan luas area perkebunan tebu PTPN X sekitar 72.000 ha, maka dapat dihasilkan 460.800.000 liter etanol. Dengan metode penanaman tebu “ring pit planting” maka akan dapat dihasilkan 1.382.400.000 liter. Jika luas areal tebu di Indonesia 470.000 ha dan semua tebu yang dihasilkan dijadikan bioetanol, maka diperoleh 3.008.000.000 liter! Wow angka yang mencengangkan! 

A journey of a thousand miles begins with a single step. Langkah awal ini bisa dimulai oleh PTPN X sebagai salah satu BUMN gula terbesar di Indonesia. Tulisan saya sebelumnya tentang peningkatan upaya on farm yaitu budidaya tebu melalui metode “ring pit planting” sangat menarik untuk dicoba sehubungan dengan upaya PTPN X untuk meningkatkan pendapatan daerah. Dengan metode “ring pit planting”, selain hasil tebu yang meningkat 3 kali lipat (sekitar 300 ton tebu/ha), tentu hasil diversifikasi tebu lainnya seperti ampas, blotong, pucuk tebu, dan tetes tebu (molasses) juga akan meningkat. Jika yang diolah menjadi bioetanol hanya tetesnya saja, maka jika diasumsikan tetes sekitar 4% tebu dan hasil bioetanol sekitar 25% tetes, maka bioethanol yang diperoleh dari 57.600.000 liter menjadi 172.800.000 liter. Amazing! Selain bioetanol, dengan strategi industri dari hulu ke hilir, PTPN X juga dapat meraup keuntungan dari pemanfaatan produk / hasil samping indutri tebu.

Keunggulan bioetanol sebagai bionergi yang utama adalah renewable dan dampak penggunaannnya terhadap lingkungan hidup jauh lebih ramah dari penggunaan fosil energi selama ini. Sebagai sumber energi yang terbarukan (renewable) karena bahan bakunya dari tanaman sehingga akan terus dapat diproduksi ulang. Etanol juga memiliki kelebihan dibandingkan premium, angka oktan etanol ektika menjadi BBM kendaraan bermotor jauh lebih tinggi dbandingkan BBM yang berkualitas baik seperti pertamax. Dari segi ekonomi produksi bioetanol tentu akan sangat menguntungkan pemerintah. Pemerintah akan dapat mengatasi krisis energi, mengurangi polusi akibat emisi gas buang penggunaan BBM,  menghemat devisa dan dapat meningkatkan ekonomi daerah yang tentunya dapat meningkatkan ekonomi secara nasional.

PTPN X sebagai BUMN gula terbesar di Indonesia dapat menjadi contoh bagi industri gula nasional bila dapat menerapkan strategi hulu ke hilir dan metode “ring pit planting” untuk upaya peningkatan on farm dalam produksi gula tebu dan membuktikan bahwa industri gula merupakan “zero waste industry” yang ramah lingkungan dan optimal dalam memanfaatkan hasil produksi baik hasil utama berupa gula dan hasil produksi sampingan. Produksi bioetanol memiliki potensi luar biasa untuk kembali menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki kedaulatan energi dan bahkan bisa menjadi negara eksportir etanol terbesar di dunia. Bila ini terwujud, tidak saja pendapatan daerah akan meningkat tapi juga dapat membantu meringankan beban pemerintah dan meningkatkan perekonomian nasional.

Sabtu, 26 Januari 2013

sepotong kenangan di Solo, 3 tahun lalu :')

 pemandangan di belakang rumah kami..kalau pagi..subhanallah..sejuk, indah, dinikmati sambil minum teh anget...#bahagiaitusederhana

 masih pemandangan di belakang rumah (kontrakan) kami yang mewah..alias..mepet sawah :p

menjelang sore di samping rumah..di sore hari kebanyaka warga Solo juga menikmati teh hangat dan suguhan cemilan hangat..pisang goreng misalnya..rindunya suasana di Solo :))


suatu senja saat matahari pulang ke peraduan, berganti tugas dengan rembulan
#demimasa jika saja kita melihat tanda-tanda kuasaNya :)
 #Quinsha lahir di Solo, 19 Oktober 2009 di RS Triharsi, deket Stasiun Balapan :) rambutnya ditaksir ibu2 perawat hihi..:D alhamdulillah Umi bisa IMD dan ASI Eksklusif, alhamdulillah..

 dapet kunjungan dr Om2 dan Tante2 dari Surabaya dan Madura! ini tampang depan agak ke samping rumah :)

gaya bobok #Quinsha yang masih berusia beberapa hari ;))
 "basecamp" nya kakak #Syauqi, di depan rumah :)) sukaaa banget dia nongkrong di sini..masi tembem pipinya :*

Gaya kakak #Syauqi mau sholat, pake sarung instan buatan Uti Fat bajunya dong, Solo banget :p batik! daaan..itu "unyeng2" ada yg di atas dahi, "unyeng2" kakak ada dua! :D

cerita ttg Solo berlanjut di posting berikutnya ya..
oya, Umi nya #Syauqi n #Quinsha punya akun twitter juga lhooo..
@arinlia dan sekalian juga follow @quinshabatik yaaa :p

Rabu, 23 Januari 2013

PELUANG, TANTANGAN DAN PERAN PTPN X DALAM MEWUJUDKAN SWASEMBADA GULA 2014



Melihat foto-foto Pabrik Gula di jaman Belanda masih menguasai bumi pertiwi ini beserta cerita bahwa dulunya, Indonesia adalah negara penghasil gula terbesar no 2 di dunia setelah Kuba, cukup membuat saya terhenyak. Ya, betapa kaya negri ini, sebetulnya. Tapi, lihatlah kondisi saat ini, maksud saya, apa kabar industri gula di Indonesia belakangan ini? Mengapa di negara yang gemah ripah loh jinawi ini kita masih harus mengimpor gula? Mengapa banyak Pabrik Gula yg dulu sangat berjaya, bahkan mampu menjadi punggung ekonomi saat Belanda terkena krisis ekonomi, satu demi satu tutup, tak beroperasi lagi. Akhir tahun ini kita mendengar berita, bahwa Indonesia tidak saja mengimpor gula tetapi juga beras, garam, bawang merah, teh dan masih banyak lagi! Neraca perdagangan Indonesia bahkan sampai mengalami defisit setelah 50 tahun terakhir yaitu pada tahun 1961 silam.

Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat. Dalam perekonomian Indonesia, gula merupakan salah satu komoditas strategis. Industri gula berbasis tebu merupakan salah satu sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu petani dan jumlah tenaga kerja yang terlibat mencapai sekitar 1,5 juta orang (data kementrian Pertanian, Dirjen Perkebunan, 2002).  Pasar gula merupakan captive market, di mana pasar sudah pasti dan konsumsi gula selalu mengalami kenaikan demand (permintaan). Data dari Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia produksi gula rata-rata 2,26 juta ton per tahun. Sementara konsumsi sekitar 5,10 juta ton per tahun.sehingga  ketergantungan terhadap gula impor masih cukup besar yakni lebih dari 2,5 juta ton per tahun.  Dan ini adalah salah satu indikator masalah industry gula di Indonesia dimana kecenderungan volume impor terus mengalami peningkatan.

Sebetulnya pemerintah telah mencanangkan swasembada gula 2014, tapi nampaknya masih dibutuhkan kerja keras dan upaya serius dari pemerintah, salah satunya adalah kebijakan yang melindungi petani tebu di dalam negeri. Sangat dinantikan action nyata dari pemerintah, political will dengan membuat kebijakan yang melindungi petani tebu dan tidak cenderung mengambil jalan instan, yaitu: mengimpor gula. Harga gula impor yang murah menyebabkan petani kemudian malas untuk membudidaya tebu yang berimbas pada kurangnya pasokan tebu sehingga pabrik tidak mampu memproduksi gula. Ini menjadi semacam lingkaran setan. Masalah berputar di sini. 

Ada 2 poin penting perbaikan pengelolaan industri gula, yaitu factor on farm dan factor off farm. Berdasarkan data Asosiasi Gula Indonesia, jumlah pabrik gula berbasis tebu lokal di Indonesia saat ini mencapai 62 pabrik. Dengan komposisi pabrik gula milik badan usaha milik negara berjumlah 50 unit dan 12 pabrik milik swasta. Sebagian besar diantaranya merupakan warisan colonial yang telah berumur 67-176 tahun.  Ada 6 PTPN yang berperan dalam industri gula di Indonesia, PTPN II, PTPN VII, PTPN XIV, PTPN IX, PTPN X, dan PTPN XI. PTPN X  sebagai BUMN gula yang semakin menunjukkan kinerja positif, tentu peran sertanya akan signifikan dalam upaya  memenuhi kebutuhan gula nasional. Pada tahun ini PTPN X  mencatat keuntungan luar biasa  Rp 417,1 miliar pada 2012 (meningkat sekitar 200 persen dari Rp 210,8 miliar pada 2011), dari tiga bisnis utama PTPN X yaitu: produk turunan tebu seperti gula dan tetes; bisnis tembakau; dan rumah sakit.  Produk turunan tebu seperti gula dan tetes mendominasi struktur pendapatan sekitar 90 persen. Kinerja positif dari PTPN X , khusususnya dalam bisnis gula karena adanya strategi yang terintegrasi dari hulu ke hilir dan adanya upaya serta inovasi berkelanjutan dalam menciptkan pertumbuhan bisnis.

           PTPN X telah melakukan perbaikan off farm rehabilitasi dan revitalisasi yang bertujuan meningkatkan kapasitas giling dan mutu gula yang dihasilkan, saran dari kami, perbaikan off farm yang bisa dilakukan adalah melakukan merger, beberapa pabrik yang dinilai kurang optimal dalam berproduksi sebaiknya ditutup dan dialihkan ke salah satu pabrik dengan mesin-mesin yang digunakan adalah mesin-mesin baru dengan teknologi yang lebih maju sehingga diharapkan  kapasitas dan kualitas hasil produksi (off farm) meningkat. Pada saat sekarang, tantangan yang sangat mendesak dan butuh peran serta PTPN X adalah dibidang on farm! Mengapa?  Kalau pendapatan petani tebu tidak prospektif memberikan keuntungan yang memadai, akibatnya petani akan mengalih fungsikan lahan/kebunnya dengan komoditas lain, bahkan menjualnya, dan berubah menjadi toko, warung, perumahan dst.  Akibatnya, areal tanaman tebu menyempit, bahan baku berkurang, dan semakin berkurang. Pabrik Gula tanpa bahan baku mau jadi apa?  Ada metoda terobosan dalam bidang on farm, yang telah dikembangkan sejak 1980, oleh Indian Institute of Sugarcane Research, Lucknow, yaitu penanaman tebu dengan metoda “ring pit planting”. Metoda ini selain meningkatkan produktivitas tebu, juga meningkatkan efektivitas pemakaian pupuk dan air, dan ramah lingkungan.

Upaya peningkatan budidaya tebu ini, perlu dicoba oleh PTPN X, karena  bisa melipatgandakan hasil tebu yang dipanen. Untuk 1 ha bila dengan cara konvensional di PTPN X  diperoleh hasil sekitar 80 s/d 90 ton tebu, maka dengan luas yg sama, 1 ha, dengan ring pit planting  ini, seperti yang telah dilakukan di Distrik Dharmapuri, Tamil Nadu, India, akan dapat dihasilkan sekitar 300 ton tebu. Metode ini telah dilakukan di India. Memang belum seluruh India. Tetapi apa salahnya dicoba di Indonesia? Dipelopori oleh PTPN X  di wilayah kerjanya. Apabila metode ini berhasil diterapkan di PTPN X , apalagi di seluruh  Indonesia, maka tidak hanya swasembada gula 2014 dapat tercapai, tetapi juga dapat  mengekspor. Maka saat itu Indonesia menjadi Negara pengekspor gula, yang memberikan kontribusi dalam memenuhi konsumsi gula global yang meningkat sekitar 2% setiap tahunnya. Dengan luas area lahan tebu PTPN X 72.000 hektar maka akan dapat dihasilkan 21,60 juta ton tebu. Jika randemen tebunya 8%, diperoleh gula 1,728 juta ton! Tentu, paling tidak 300% dari yang dicapai sebelumnya. Untuk tambahan perolehan lain: tetes, sisa ampas? Hmm, petani pasti sangat senang, PTPN juga amat senang. Cerita konversi lahan tebu jadi ruko, jadi perumahan, yang menyebabkan lahan menyempit dan jumlah tebu makin berkurang, cukup sampai disini!.Ketersediaan bahan baku tebu untuk Pabrik Gula akan “Lestari berkesinambungan”. Luar biasa! Tidak hanya “fantastic” tetapi “fandamntastic”!  Apakah PTPN X dapat mewujudkan terobosan “on farm” dengan “ring pit planting”? Kenapa tidak? Mulai dengan PTPN X mempelajari apa yang dilakukan di India. Kemudian mengajari para petani kita dengan bersungguh-sungguh, dengan kerjasama yang saling menguntungkan, maka tantangan-terjawab dan peran serta-bukan slogan kosong- untuk mewujudkan swasembada gula khususnya, dapat dipelopori oleh PTPN X. Ayo PTPN X jawab tantangan ini! Ayo Indonesia, kita wujudkan swasembada gula!

Say what we do, do what we say, and…Prove it”!

Selasa, 22 Januari 2013

Yuk wisata cagar budaya Surabaya!


HOUSE OF SAMPOERNA


Surabaya Heritage Track

JADWAL: 
I. Tur pendek atau 1 – 1.5 jam:
Rute : HoS – Tugu Pahlawan – PTPN XI – HoS



II. Tur panjang atau 1.5 – 2 jam:
Rute : HoS – Tunjungan – Balai Kota/Taman Surya – Gd Kesenian Jawa Timur – PTPN XI – HoS
A. Selasa – Kamis 
I: 10:00-11:30
II: 13:00-14:30
III: 15:00-16:30



B. Jumat – Minggu: 
I: 09:00-11:00 : turun di Balai Pemuda
II: 13:00-14:30 : turun di Balai Kota
III: 15:00-17:00 : turun di Cak Durasim




Ternyataaa...Charlie Chaplin sama Marilyn Monroe pernah ke sini lho..iya..ke Surabaya! 



 Awal mula usaha pendiri Sampoerna..buka Toko Kelontong sederhana kayak gini ini..emang bener ya, every big dream starts from little step!


begitu buka pintu masuk, ketemu kolam ikan di bagian tengah ruangan ;) Kiddos will love it! :D


 Dulu Marching Band Sampoerna pernah berjaya bahkan sampai menang di lomba tingkat dunia! kancah internasional, jendral! itu sekitar tahun '92-'93 gitu...entah kenapa sekarang ga diteruskan prestasinya..


 Lapeeer..mari masuk cafe nyaaa...*mata sayu, perut sendu*


 tampak sekilas interior di dalem cafe nya, tampak ada bar di sudut sana


 Syauqi kelaperan, minta nasi goreng..iya, kebetulan juga menu nasi goreng adalah menu yg paling murah..*emak pelit* minumnya..es teh dong masi jadi juara! *masih balada emak pelit:p*

kursinya kursi jadul...i love barang jadul :p