Berita
tentang neraca perdagangan RI yang mengalami defisit setelah 16 tahun lalu
terakhir kali defisit, membuat saya tertarik untuk mencari informasi lebih
jauh. Dari salah satu artikel berita saya dapatkan informasi bahwa Indonesia
saat ini merupakan pengimpor BBM (Bahan Bakar Minyak) terbesar di dunia dengan
nilai impor BBM sebesar US$ 28 miliar pada tahun 2011. Hal ini karena Indonesia
defisit produksi minyak. Pengamat ekonomi, Faisal Basri, mengatakan kondisi impor BBM yang tinggi ini
memperlihatkan Indonesia tidak lagi memiliki kedaulatan energi saat ini. Bahkan,
Indonesia juga mengalami defisit pangan
dan manufaktur karena pemerintah dengan
gampangnya mengambil jalur pintas yaitu: mengimpor! Betul apa yang dikatakan
Bapak Faisal Basri, sejelek-jeleknya kondisi bangsa ini, tidak pernah sampai
harus defisit pangan. Kebijakan pemerintah untuk melindungi petani sangat
dinantikan action nya. Bahwa baru-baru
ini pemerintah melarang buah-buah impor masuk ke Indonesia perlu diapresiasi
dan semoga ada follow up bagi petani
lainnya seperti petani tebu, bawang merah, teh, kapas, kedelai dan lainnya.
Sehubungan
dengan impor BBM Indonesia yang makin besar, tentunya ada tanda tanya, action apa yang bisa dilakukan oleh
kita? Pertanyaan ini kemudian “terhubung” dengan artikel yang saya baca tentang
manfaat tebu. Tebu dan kelapa sawit ternyata
merupakan “the future plantation”. Karena
dua tanaman ini memiliki potensi keuntungan luarbiasa di masa depan. Tebu, selain
bisa diolah dengan hasil utama gula, ternyata dalam industri gula tebu juga memiliki
hasil samping yaitu pucuk tebu, blotong, ampas dan molasses (tetes tebu). Pucuk tebu dapat dijadikan pakan ternak,
blotong dapat dijadikan pupuk organik untuk budidaya sayuran dan buah-buahan organik
yang makin meningkat kebutuhannya dewasa ini, ampas tebu yang dapat di gunakan
untuk bahan bakar ketel untuk memproduksi energi dan merupakan
sumber energi potensial penghasil listrik, sedangkan tetes (molasses) merupakan bahan baku
fermentasi yang dapat menghasilkan etanol dan bahan baku berbagai industri misalnya asam asetat, asam sitrat, lisin, asam
sitrat, dan protein sel tunggal.
Mari
belajar dari Brazil, negeri Samba ini merupakan pelopor penggunaan bahan bakar
kendaraan berbasis tebu dengan produk bioetanolnya. Brazil sebagai negara terbesar
dalam pengembangan teknologi otomotif berbahan bakar alkohol dan eksportir etanol
terbesar di dunia. Produksi etanol Brazil di tahun 2003-2004 mencapai 13, 6
milyar liter/tahun dan menempatkan Brazil sebagai penghasil bioetanol terbesar
di dunia. Dari data yang
ada menunjukan bahwa Brazil dan Amerika Serikat menghasilkan 89% bahan bakar
etanol dari produksi dunia pada tahun 2009. Sekarang ini Brasil dianggap
sebagai negara yang mempunyai ekonomi pertama yang berkelanjutan di dunia
biofuel dan pemimpin industri biofuel. Saat ini tidak ada lagi kendaraan ringan
di Brazil yang berjalan murni dengan menggunakan bensin. Hal
ini sesuai dengan program pemerintahnya untuk memiliki kedaulatan energi dengan
tidak tergantung pada impor minyak dari negara-negara Timur Tengah.
Indonesia
sebetulnya memiliki potensi besar untuk mengembangkan bioetanol berbahan baku
tebu. Dengan asumsi 80 liter bioetanol dapat dihasilkan dari 1 ton tebu (data
teknis dari Brazil). Jika produktivitas tanaman tebu PTPN X rata-rata 80 ton
per ha maka dari setiap ha lahan tebu
dapat dihasilkan 6400 liter etanol. Dengan luas area perkebunan tebu PTPN X
sekitar 72.000 ha, maka dapat dihasilkan 460.800.000 liter etanol. Dengan
metode penanaman tebu “ring pit planting”
maka akan dapat dihasilkan 1.382.400.000 liter. Jika luas areal tebu di
Indonesia 470.000 ha dan semua tebu yang dihasilkan dijadikan bioetanol, maka diperoleh
3.008.000.000 liter! Wow angka yang mencengangkan!
A journey of a thousand miles
begins with a single step. Langkah awal ini bisa dimulai
oleh PTPN X sebagai salah satu BUMN gula terbesar di Indonesia. Tulisan saya
sebelumnya tentang peningkatan upaya on
farm yaitu budidaya tebu melalui metode “ring pit planting” sangat menarik untuk dicoba sehubungan dengan
upaya PTPN X untuk meningkatkan pendapatan daerah. Dengan metode “ring pit planting”, selain hasil tebu
yang meningkat 3 kali lipat (sekitar 300 ton tebu/ha), tentu hasil
diversifikasi tebu lainnya seperti ampas, blotong, pucuk tebu, dan tetes tebu (molasses) juga akan meningkat. Jika yang
diolah menjadi bioetanol hanya tetesnya saja, maka jika diasumsikan tetes sekitar
4% tebu dan hasil bioetanol sekitar 25% tetes, maka bioethanol yang diperoleh
dari 57.600.000 liter menjadi 172.800.000 liter. Amazing!
Selain bioetanol, dengan strategi industri dari hulu ke hilir, PTPN X juga
dapat meraup keuntungan dari pemanfaatan produk / hasil samping indutri tebu.
Keunggulan
bioetanol sebagai bionergi yang utama adalah renewable dan dampak penggunaannnya
terhadap lingkungan hidup jauh lebih ramah dari penggunaan fosil energi selama
ini. Sebagai sumber energi yang terbarukan (renewable)
karena bahan bakunya dari tanaman sehingga akan terus dapat diproduksi ulang.
Etanol juga memiliki kelebihan dibandingkan premium, angka oktan etanol ektika
menjadi BBM kendaraan bermotor jauh lebih tinggi dbandingkan BBM yang
berkualitas baik seperti pertamax. Dari segi ekonomi produksi bioetanol tentu
akan sangat menguntungkan pemerintah. Pemerintah akan dapat mengatasi krisis energi,
mengurangi polusi akibat emisi gas buang penggunaan BBM, menghemat devisa dan dapat meningkatkan
ekonomi daerah yang tentunya dapat meningkatkan ekonomi secara nasional.
PTPN
X sebagai BUMN gula terbesar di Indonesia dapat menjadi contoh bagi industri gula
nasional bila dapat menerapkan strategi hulu ke hilir dan metode “ring pit
planting” untuk upaya peningkatan on farm
dalam produksi gula tebu dan membuktikan bahwa industri gula merupakan “zero waste industry” yang ramah
lingkungan dan optimal dalam memanfaatkan hasil produksi baik hasil utama berupa
gula dan hasil produksi sampingan. Produksi bioetanol memiliki potensi luar
biasa untuk kembali menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki
kedaulatan energi dan bahkan bisa menjadi negara eksportir etanol terbesar di
dunia. Bila ini terwujud, tidak saja pendapatan daerah akan meningkat tapi juga
dapat membantu meringankan beban pemerintah dan meningkatkan perekonomian
nasional.

.jpg)